abdullahhaidir | Unsorted

Telegram-канал abdullahhaidir - Abdullah Haidir

3873

Belajar tiada henti, beribadah hingga mati

Subscribe to a channel

Abdullah Haidir

Khutbah Idul Adha:

TAKWA ADALAH MENGHAMBA DAN MEMULIAKAN HARKAT MANUSIA

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ

اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلًا لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ. الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ للهِ الْخَالِقِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَالْخَلَائِقِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَنَّانُ. الَّذِيْ اَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِسْلَامِ وَالْاِيْمَانِ. وَ أَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اِلَى جَمِيْعِ الْاِنْسَانِ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِهِمْ اِلَى اٰخِرِ الزَّمَانِ. اَمَّا بَعْدُ

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ

Ma’aasyiral mukminiin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Lantunan puji Syukur, kalimat tahlil dan takbir kita kumandangan untuk menghadirkan penghambaan dan rasa Syukur atas nikmat Allah di hari-hari yang mulia ini. Hari-hari yang menjadikan amal ibadah kita menjadi amal ibadah yang lebih Allah cintai di banding amal ibadah yang dilakukan pada hari-hari lainnya.

Di antara amal ibadah yang spesial di hari-hari ini dan tidak terdapat pada hari-hari lainnya adalah ibadah haji dan kurban. Kedua ibadah ini sangat pekat dan sarat dengan nilai penghambaan kepada Allah. Apalagi kalau melihat latar belakang kisah Nabi Ibrahim alaihissalam yang memiliki ikatan kuat dengan kedua ibadah tersebut.

Perhatikanlah Nabi Ibrahim alaihissalam. Dia diperintahkan Allah untuk menempatkan isterinya, Hajar dan puteranya Ismail di lembah yang tandus dan gersang tak berpenghuni, lalu dia diperintahkan membangun Ka’bah, selesai membangun Ka’bah diperintahkan menyeru umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, kemudian diperintahkan pula menyembelih putera tersayangnya; Ismail alaihissalam. Semua perintah tersebut dia sambut dengan segenap kesiapan melaksanakannya semaksimal mungkin sehingga Allah berikan beliau kedudukan tinggi sebagai pemimpin.

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Baqarah: 124)

Demikianlah beliau memberikan keteladanan agung bagi kita umat Islam yang kini diabadikan dalam syariat kurban dan haji. Keteladanan berupa semangat penghambaan saat berhadapan dengan syariat dan ajaran Allah Taala.

Apa yang membuat umat Islam bersemangat untuk mengurbankan seekor kambing atau sepertujuh sapi, bahkan ada sebagian orang yang rela menyisihkan penghasilannya yang sedikit demi untuk bisa berkurban? Apa pula yang menggerakan jutaan umat Islam menuju Baitullah dari negerinya masing-masing yang sangat jauh, mengeluarkan biaya besar dan tenaga ekstra dengan resiko yang tidak kecil? Satu kata kunci yang dapat menjadi jawaban dari pertnyaan di atas, yaitu penghambaan kepada Allah Taala.

Inilah semangat yang seharusnya kita tumbuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari dan inilah yang menjadi inti ketakwaan. Mustahil ketakwaan diraih tanpa penghambaan. Penghambaan kita kepada Allah akan terwujud manakala kesiapan melaksanakan perintah Allah mendahului segala simbol dan atribut yang kita miliki; Kecerdasan dan wawasan, pangkat dan jabatan, popularitas dan kekayaan, ego dan kesombongan.

Betapa banyak ketaatan dan ketundukan kepada Allah terhalang oleh kecerdasan seperti Iblis yang pandai mencari alasan, betapa banyak ketundukan terhenti oleh pangkat dan jabatan sepserti Namruz dan fir’aun, betapa banyak ketundukan kepada syariat Allah terhalang oleh ego dan kesombongan seperti

Читать полностью…

Abdullah Haidir

Takbir Muqoyyad….

(و) يكبر (في) عيد (الأضحى خَلف الصلوات المفروضات) من مؤداة وفائتة؛ وكذا خلف راتبة ونفل مطلق وصلاة جنازة، (مِن صُبح يوم عرفةَ إلى العصر من آخر أيام التشريق)

Dan (disunahkan) bertakbir pada Idul Adha setiap selesai shalat fardhu, baik yang dilakukan langsung atau qadha, demikian juga setiap selesai shalat sunah rawatib, shalat sunah mutlak dan shalat jenazah, dari sejak shalat Shubuh hari Arafah (tgl 9 Zulhijah) hingga shalat Ashar di akhir hari tasyriq (tgl 13 Zulhijah).

Adapun redaksi takbir adalah sebagai berikut;

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إلاَّ اللهَ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أكبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلهَ إلاَّ اللهَ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَّمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha besar, Laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahilhamd. Allahu Maha Besar, segala puji yang banyak milik Allah, maha suci Allah setiap pagi dan petang. Tidak ada tuhan yang disembah selain Allah semata, Dia benar janjinya, menolang hambaNya, memuliakan tentaranya dan hanya Dia yang mengalahkan pasukan musuh.”

Sumber: Kitab Fathul Qarib, Bab Shalatul Idain, hal. 103 (berdasarkan penomoran Al Maktabah As-Syamilah)

Abdullah Haidir

Читать полностью…

Abdullah Haidir

Al Allamah Syekh Muhamad Al Dedew :

*Kapan puasa Arafah di negeri yang penetapannya berbeda dengan penetapan Mekah (wuquf Arafah)*


*Tanya:*

Syekh yang mulia, ada yang bertanya, ada beberapa negara yang penetapan awal Zulhijahnya berbeda dengan tanah haram, sehingga hari Arafah di Arab Saudi tidak sama dengan hari Arafah di negerinya. Bagaimana dia berpuasa, apakah dia berpuasa pada hari itu atau apa yang harus dia lakukan?

*Jawab:*

Di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ketika beliau memerintahkan puasa Arafah, maka yang dimaksud hari Arafah adalah hari ke Sembilan bulan Zulhijah (tanggal 9 Zulhijah). Dan saat itu kita belum memiliki media informasi, Al-Jazeera (chanel Al-jazeera, maksudnya) belum ada juga sehingga para jamaah haji dari bukit Arafah dapat memberikan informasi kepada kita. Yang orang tahu saat itu bahwa hari Arafah adalah hari (tanggal) 9 Zulhijah saja. Maka inilah yang menjadi patokan hukumnya, yaitu (bahwa hari Arafah adalah) hari tanggal 9 Zulhijah di tempat seseorang berada.

Lebih khusus lagi jika terjadi perbedaan mathla (tempat munculnya hilal), jika terjadi perbedaan waktu sekian jam antara daerah, maka mereka (penduduk daerah lain yang berbeda mathla) tidak mungkin mulai berpuasa seperti waktu kita berpuasa, berlebaran di hari kita lebaran dan shalat Id di hari kita shalat Id.

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/018ULa96mb4?si=uSDp25nVPfKMsuA1

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/-Tw2bcKiHuM?si=su8U4R37MBdAL8cU

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/62X_R44Q2s4?si=rhMObpvHlBB9yFFX

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/OSNPjAxjHMM?si=3iC41OxOFTABkMgd

Читать полностью…

Abdullah Haidir

Mengelola Kekecewaan

Kecewa adalah bagian kehidupan yang tak terpisahkan. Karena sunatullah, hidup ini tidak selalu rata dan lempang sesuai apa mau kita. Naik turun, pasang surut, menang kalah, untung rugi, dia selalu datang silih berganti. Dalam hidup, pasti ada yang tidak sesuai ekspektasi, maka kecewa, dengan kadar masing-masing, pasti kan menghampiri. Jika ada yang mengatakan bahwa dia tidak pernah kecewa, maka dua kemungkinan, apakah dia berdusta, atau kehidupannya tidak normal.

Yang terpenting bukan masalah kecewanya, tapi bagaimana kita mengelolanya. Kekecewaan dapat berujung pada tindakan yang justeru merugikan dan lebih buruk, tapi juga dapat jadi energi besar untuk lakukan langkah-langkah kebaikan. Sekali lagi, tergantung bagaimana kita mengelolanya.

Ada sebagian orang yang karena kecewa pada orang tertentu, dia terjerumus dalam dunia prostitusi, kecanduan miras atau narkoba. Ada juga yang karena kecewa lalu putus asa hingga nekat bunuh diri. Ada lagi yang kecewa, lalu dia melontarkan kata-kata kasar, mudah menuduh, menyebarkan berita dusta, atau perbuatan lain yang melanggar aturan, baik aturan syariat ataupun konstitusi. Itu sedikit gambaran ‘salah kelola’ kekecewaan. Betapapun di sana ada pelanggaran atau kezaliman pihak lain, itu semua tidak boleh melegitimasi pelampiasan kekecewaan yang salah.

Maka yang kita butuhkan adalah mengelola kekecewaan dengan benar. Misalnya, jika disana ada kezaliman, maka lakukan perlawanan dengan tepat, efektif dan sesuai aturan. Atau kecewa karena apa saja, maka kita sikapi dengan mengatur strategi dan langkah antisipasi agar kekecewaan yang sama tidak berulang, membangkitkan tekad dan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan untuk membalas kekecewaan yang ada sekarang dengan meraih keberhasilan kedepan.

Kecewapun dapat kita jadikan sarana untuk melakukan kontomplasi, muhasabah atau instrospeki atas jejak langkah yang telah dilakukan, kalau-kalau ada yang harus diperbaiki, selain bahwa kecewa juga dapat menjadi kesempatan bagi kita melatih kesabaran, pengendalian diri dan keimanan akan takdir Allah, lalu dengan lirih dapat kita ucapkan, ‘Qadarallah, maa syaa’a faal….”

_Abdullah_Haidir_

Читать полностью…

Abdullah Haidir

*Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bulan Sya’ban*

Alhamdulillah, kita bertemu kembali dengan bulan Sya’ban, semoga Allah berikan segala keberkahan di bulan mulia ini.

Ada beberapa hal yang layak diketahui tentang bulan Sya’ban;

• Bulan yang cenderung diabaikan, karena terletak di antara dua bulan mulia; Rajab dan Ramadan.

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ،

“Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan…” (HR. An Nasai, no. 2357)

Hal ini disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, agar kaum muslimin tidak hanya peduli dengan bulan Rajab dan Ramadan karena kemuliaan keduanya, tapi bulan Sya’ban pun jangan diabaikan, karena dia memiliki kemuliaan dan kekhususan juga.

• Bulan dilaporkan amal seorang hamba kepada Allah Taala

وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.

“Dia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam. Dan aku suka jika amalku diangkat, aku dalam keaadan berpuasa”. (HR An-Nasai no. 2357)

• Bulan yang paling banyak Rasulullah saw berpuasa di dalamnya.

Hal ini sebagaimana dikatakan Aisyah radhiallahu anha;

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

“… Dan Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam sebulan kecuali di bulan Ramadhan, dan Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban.” (HR Al-Bukhari no. 1969 dan Muslim, no. 1156)

Maka disunahkan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

• Bulan terakhir dibolehkannya seseorang menunda qadha puasa Ramadan

Berdasarkan perkataan Aisyah radhiallahu anha;
كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

“Aku sempat punya utang puasa Ramadhan, namun aku tidak dapat mengqadha nya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Kedatangan bulan Sya’ban harus menjadi peringatan bagi mereka yang masih punya hutang puasa Ramadan lalu agar segera mengqadha puasanya sebelum masuk Ramadan berikutnya, kecuali jika memang ada uzur syar’i, seperti sakit. Hendaknya masing-masing saling mengingatkan, khususnya para orang tua kepada putera puterinya.

• Kalangan salafusshalih menjadikan bulan Sya’ban sebagai Syahrul Qurro (bulan pembaca Al-Quran) juga bulan untuk mengeluarkan zakat harta.

Ibnu Rajab Al Hambali berkata,

رُوِّينا بإسنادٍ ضعيفٍ عن أنَسٍ، قالَ: كانَ المسلمونَ إذا دَخَلَ شعبانُ، أكَبُّوا على المصاحفِ يَقْرَؤونَها، وأخْرَجوا زكاةَ أموالِهِم، تقويةً للضَّعيفِ والمسكينِ على صيامِ رمضانَ

“Kami menerima riwayat dengan sanad dhaif (lemah) dari Anas RA yang mengatakan bahwa ketika masuk bulan Sya‘ban umat Islam tertunduk pada mushaf Al-Qur’an. Mereka menyibukkan diri dengan tadarus dan mengeluarkan harta mereka untuk membantu kelompok dluafa dan orang-orang miskin dalam menyongsong bulan Ramadlan.” (Lathailful Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Dar Ibnu Huzaimah, 2007, hal. 319)

Hal ini juga dapat dikatagorikan sebagai persiapan diri untuk menyambut Ramadan, juga memberikan persiapan bagi kaum lemah (dhu’afa) untuk menyambut Ramaadn dengan mengeluarkan zakat untuk mereka. Meskipun ini riwayat dhaif, namun dia dapat dipakai sebagai fadha’ilul a’mal (mendapatkan keutamaan amal) disamping perkara ini banyak juga disampaikan para ulama. Di antaranya juga disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab Fathul Bari,

كَانَ الْمُسْلِمُونَ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ أَكَبُّوا عَلَى الْمَصَاحِفِ، وَأَخْرَجُوا الزَّكَاةَ،

“Kaum muslimin dahulu jika masuk bulan Sya’ban, mereka tekun dengan mushafnya (baca Al-Quran) dan mengeluarkan zakat.” (Fathul Bari, 13/311)

• Di dalamnya terdapat malam yang mulia, yaitu malam nishfu Sya’ban (malam pertengahan bulan Sya’ban)

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Читать полностью…

Abdullah Haidir

👆Hari ini masuk bulan Sya'ban... sila disimak

Читать полностью…

Abdullah Haidir

Isra Mi’raj Dan Al Fauzul Azim (Kemenangan Besar)

Dalam perjalanan Isra Mi’raj yang fantastis, selain menerima perintah shalat lima waktu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diperlihatkan surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala kepedihan azabnya. Seakan memberikan isyarat, segala kenikmatan yang ada di dunia tak ada apa-apannya dibanding kenikmatan surga. Sebaliknya, segala kepedihan dunia tak sebanding sedikitpun dibanding pedihnya siksa neraka. Maka, apapun yang dialami dalam kehidupan dunia, kalau berujung masuk surga dan terhindar dari neraka, maka itulah ‘Al-Fauzul Azim (kemenangan agung) sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat dalam Al-Quran. Tapi jika akhirnya seseorang terjerumus dalam siksa neraka, maka itulah ‘Al-Khusraanul mubiin’ (Kerugian yang nyata).

Inilah yang semestinya jadi acuan dan patokan kemenangan dan keberhasilan setiap orang beriman. Setiap perjuangannya harus mengacu pada ‘al fauzul azim’ yang diimpikan. Apakah itu perjuangan dakwah, perjuangan politik, ataupun perjuangan yang bersifat pribadi. Jika target akhirnya ‘al fauzul azim’ maka dengan sendirinya hal itu akan mengatur setiap langkah dan sikapnya dan bahkan disadari atau tanpa disadari hal tersebut besar peranannya untuk mencapai keberhasilan dan kemenangan yang riil di dunia. Kalaupun belum atau tidak tercapai, diapun tidak merasa putus asa dan sia-sia, karena semua akan dicatat sebagai amal kebaikan, sebab targetnya memang adalah al fauzul azim. Adapun kemenangan dan keberhasilan dunia, hanyalah bonus yang jika didapat layak disyukuri, jika tidak dapat diraih tetap disabari.

Lain halnya jika seseorang tidak menjadikan ‘al fauzul azim’ sebagai target akhir. Perjuangannya dalam meraih kemenangan dan kesuksesan tak lagi mengindahkan rambu-rambu keimanan dan ketaatan. Seringkali perkara ini tanpa disadari menyebabkannya pada kegagalan dan sengsara dunia. Bahkan kalaupun dia meraih keberhasilan dan kemenangan dunia, apalah artinya kemenangan dan kesenangan sesaat, kalau akhirnya kekal dalam neraka dengan segala pedihnya azab.

Mari kita renungkan firman Allah tentang ‘perdagangan’ yang akan menyelamatkan kita dari azab neraka. Dia mengatakan, (yaitu),

“Engkau beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa raga…”
Apa yang di dapat?

“Dia akan mengampuni kalian dan memasukkan kalian dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai serta kediaman yang nyaman di surga Aden, itulah kemenangan yang agung (al fauzul azim).”

Berikutnya adalah bonusnya,

“Pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat waktunya.” (QS. As-Shaf: 11-13)

Читать полностью…

Abdullah Haidir

Khutbah Jumat; Jujur Adil Dalam Pemilu

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah Taala.

Pemungutan suara tinggal menghitung hari. Semua mata di negeri ini tertuju padanya, karena memang hal ini berkaitan dengan kepemimpinan yang tentunya akan sangat besar pengaruhnya bagi perjalanan bangsa kedepan. Tentu semua kita menginginkan pemungutan suara berjalan lancar, aman dan sukses dan yang lebih penting lagi adalah menghasilkan kepemimpinan yang berkualitas dan Amanah sehingga dapat membawa bangsa ini menjadi negeri seperti yang Allah katakan ‘Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur’.

Kaum muslimin jamaah shalat jumat yang dimuliakan Allah taala

Ada dua kosa kata yang sangat akrab disebut dalam pemilu, bahkan dia ditetapkan sebagai asas pemilu di negara kita, yaitu jujur dan adil, dikenal dengan istilah jurdil. Menghadirkan pemilu sebagaimana yang kita harapkan sebelumnya sesungguhnya dapat dimulai dengan menegakkan prinsip jurdil bagi semua pihak yang terlibat dalam pemilu. Itu artinya, siapapun yang terlibat dalam pemilu, baik dia sebagai penyelenggara, kontestan maupun para pemilih, semua memiliki tanggungjawab yang sama untuk mewujudkan hal ini.

Jujur adalah sifat mulia yang seharusnya sudah menjadi karakter dasar seorang muslim. Lawan dari jujur adalah dusta. Maka, jika jujur sangat diperintahkan, dusta sangat dikecam dan karenanya harus dijauhi;

Rasulullah saw bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).” (Muttafaq alaih)

Begitupun sifat adil, adalah sifat yang sangat mulia, dia pun menjadi salah satu standar ketakwaan seseorang. Karenanya kita diperintahkan untuk memiliki sifat ini. Lawannya adalah sifat zalim yang harus dijauhi, bahkan Allah memperingatkan dalam Al-Quran, janganlah kebencian kita pada satu pihak membuat kita tidak adil atau bersikap zalim.

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah..” (QS. Al Maidah: 8)



Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Melalui mimbar Jumat yang mulia ini kami mengingatkan bahwa agenda pemilu yang akan kita selenggarakan adalah agenda besar yang sangat menentukan arah perjalanan bangsa kita kedepan. Karena itu, jika hal ini disikapi dengan niat yang Ikhlas mencari ridha Allah dan kemaslahatan bersama, lalu menghadirkan sikap terpuji, di antaranya adalah jujur dan adil, maka insyaAllah hal ini menjadi ladang pahala yang sangat besar. Namun jika sebaliknya, diapun menjadi kemunkaran yang sangat besar.

Kepada penyelenggara pemilu yang telah ditunjuk resmi oleh pemerintah, baik dari tingkat nasional sampai kelurahan hingga RT, tunaikan amanah ini sebaik-baiknya. Hadirkan sikap jujur dan adil, juga profesional dalam melaksanakan tugas, maka kebaikan yang besar akan anda dapatkan. Jangan sekali-kali tergiur dengan tawaran untuk berbuat curang, manipulasi, khianat dan zalim, betapapun besarnya tawaran tersebut. Karena jika hal itu anda lakukan, anda bukan hanya membuat kerusakan bagi diri anda sendiri, tapi anda ikut andil bagi akibat

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/dvb9Ig5uQDg?si=KFGAWDmxxLafGc05

Читать полностью…

Abdullah Haidir

*Bolehkah puasa Rajab sebulan penuh?*


*Pertanyaan*

_Assalamu’alaikum wr. wb._

Izin bertanya ustadz, ketika saya sudah berpuasa daud (sejak oktober 2023 hingga sekarang) ketika saat ini moment bulan rajab.. apakah diperbolehkan berpuasa setiap hari?.. karena juga dalam keseharian saya bila tidak berpuasa akan terlalu banyak ngemil dan makan terus (Sofyan Oktavian)

*Jawaban*

_Waalaikumussalam wr.wb_

Bismillah wal hamdulillah.
Semoga Allah beri kekuatan bagi anda dan jaga semangat anda untuk rajin beribadah sunah, khususnya ibadah puasa.

Terkait puasa setiap hari di bulan Rajab, jika yang anda maksud adalah memperbanyak ibadah puasa di bulan Rajab sehingga di bulan tersebut anda lebih banyak berpuasa, maka hal tersebut termasuk sunah yang dianjurkan. Karena bulan Rajab termasuk bulan yang dihormati (Al Asyhurul hurum) dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berpuasa di bulan-bulan yang dihormati, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam;

صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ (رواه أبو داود )

“Berpuasalah pada sebagian hari-hari di bulan haram dan tinggalkanlah.” (HR. Abu Daud, no. 2428)

Maksudnya, banyaklah berpuasa di bulan-bulan haram, tapi sekali waktu tinggalkan ibadah puasa.

Disebutkan dalam Kitab Fathul Muin,

أفضل الشهور للصوم بعد رمضان: الأشهر الحرم وأفضلها المحرم ثم رجب ثم الحجة ثم القعدة ثم شهر شعبان

“Bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan-bulan yang dihormati, yang paling utama adalah Muharam, kemudian Rajab, kemudian Zulhijah, kemudian Zulqaidah kemudian bulan Sya’ban.” (Fathul Muin, hal. 281, berdasarkan penomoran Maktabah Syamilah)

Akan tetapi, jika yang anda maksud puasa setiap hari di bulan Rajab adalah berpuasa sebulan penuh, maka hendaknya hal itu tidak dilakukan meskipun tidak ada larangan khusus berpuasa sebulan penuh selama tidak ada hari-hari yang dilarang berpuasa, yaitu dua hari Id dan tiga hari Tasyriq. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak berpuasa sebulan penuh selain Ramadan, sebagaimana perkataan Aisyah radhiallahu anha,

فَما رَأَيْتُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلَّا رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan kecuali bulan Ramadan.” (HR. Bukhari, no. 1969)

Kesimpulannya, silakan memperbanyak ibadah puasa di bulan Rajab, insyaAllah akan mendapatkan keutamaan puasa di bulan-bulan mulia. Namun sebaiknya tidak melakukannya sebulan penuh, selingi beberapa hari dengan tidak berpuasa.

Wallahu a’lam.

https://tanyasyariah.com/pilihan/memperbanyak-puasa-sunah-di-bulan-rajab-apakah-dianjurkan/

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/K7wHyOyLm94?si=Q_jRrleGvHFJhOXv

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/kkl8RqADYpE?si=tCjk3-NxZQpx7tE9

Читать полностью…

Abdullah Haidir

SPIRIT TALBIYAH...

Talbiyah adalah lafaz yang agung. Siapapun orang beriman kan bergetar jiwanya saat membacanya atau mendengarnya. Bisa dibayangkan jika lafaz ini dibaca saat moment ihram dalam ibadah haji atau umrah.

Sunah membaca talbiyah memang hanya berlaku bagi mereka yang umrah atau haji, tapi spirit yang terkandung dalam talbiyah dapat diraih siapa saja, yang umrah dan haji atau yang tidak. Bahkan, jika haji dan umrah wajib bagi yang punya harta cukup, spirit talbiyah wajib bagi siapa saja yang beriman, baik hartanya berlimpah ataupun tidak.

Talbiyah berasal dari kata labbaa yulabbii, artinya memenuhi panggilan. Kata labbaika biasa diucapkan ketika kita sigap memenuhi panggilan seseorang yang kita muliakan. Dalam beberapa riwayat, para sahabat ketika dipanggil Rasulullah saw, mengatakan ‘labbaika ya Rasulallah…’ Dalam bahasa kita, kata labbaika dapat dengan sederhana diartikan dengan kata, ‘Siap!”

Seruan Allah bukan hanya haji dan umrah, tapi semua perintah yang Allah serukan. Pada titik inilah sebagai orang beriman kita dituntut memiliki spirit talbiyah, yaitu kesiapan seseorang untuk memenuhi setiap seruan dan panggilan Allah Taala.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu..” (QS. Al Anfal: 24)

Dengan spirit ini, maka keimanan akan hidup dan kehidupan akan nyata terwarnai oleh nilai-nilai keimanan, tidak kalah dari kemuliaan dan keagungan ibadah haji dan umrah itu sendiri.

Sebaliknya, jika ibadah haji dan umrah yang telah dilakukan, bahkan walau berkali-kali, namun spirit talbiyah tidak tampak dalam kehidupan sehari-hari dengan mengabaikan segala kewajiban dan ringan melakukan kemungkaran, maka haji dan umrahnya tidak dapat membantunya untuk meraih ketinggian derajat di sisi Allah Taala. Wallahu a’lam.

Abdullah Haidir

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://www.instagram.com/reel/C7_Wef9sNzU/?igsh=dnp0b2Zvb2xvYWl4

Читать полностью…

Abdullah Haidir

Cuma Sebentar Doang…..

Ramadan yang sekian waktu lalu kita tunggu-tunggu kedatangannya, kini ‘tau-tau’ sudah berada di penghujung. Waktu sangat cepat berlalu. Ramadan cuma sebentar saja. Makanya Allah taala tidak membahasakan masa puasa Ramadan dengan kata ‘syahrun kaamil’ (sebulan penuh) tapi ‘ayyaaman ma’duudaat’ yang kalau boleh diterjemahkan dengan bahasa bebas, artinya; ‘Cuma beberapa hari saja.’ Dalam Tafsir Al-Jalalain diberi komentar, ‘Dikesankan sedikit harinya untuk memudahkan bagi mereka yang terkena kewajiban.’

Nyatanya apapun yang kita lakukan, baik ketaatan maupun kemaksiatan, hakekatnya memang cuma sesaat saja. Orang Depok bilang, ‘Sebentar doang’.

Pelajarannya adalah, jangan lemah melakukan ketaatan, kalaupun kita dapati rasa letih, capek, atau apapun yang terasa memberatkannya, toh semua itu cuma sebentar saja, tak lama kemudian akan sirna. Yang tersisa adalah harapan besar akan ridha dan balasan kebaikan dari Allah taala, jauh lebih besar dibanding letih dan berbagai kesulitan yang kita hadapi. Bahkan di dunia pun sudah akan kita rasakan berbagai kesenangan dan kenikmatan, buah dari ketaatan semisal saat berbuka dan berlebaran bagi mereka yang berpuasa.

Sebaliknya, jangan mudah melakukan kemaksiatan karena janji dan iming-iming kenikmatan dan berbagai kesenangan. Kalaupun hal itu didapatkan, itupun cuma sebentar saja. Tak lama kemudian, hilang sudah kenikmatan dan kesenangan dari hasil maksiat tersebut. Yang tersisa adalah dosa dan ancaman azab dari Allah, tak sebanding dengan kesenangan dan kenikmatan yang didapat. Faktanya, di dunia saja sudah sering kita saksikan, buah kemaksiatan melahirkan pedih dan perih serta penyesalan tiada tara. Apalagi di akhirat.

Ibnu Al Jauzi mengatakan,

إِنَّ مَشَقَّةَ الطَّاعَةِ تَذْهَبُ، وَيَبْقَى ثَوَابُهَا، وَإِنَّ لَذَّةَ الْمَعَاصِي تَذْهَبُ، وَيَبْقَى عِقَابُهَا

“Sesungguhnya, beratnya ketaatan akan sirna, yang tersisa adalah pahalanya. Dan kenikmatan maksiat juga akan sirna, yang tersisa adalah siksanya.”

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/nbi3pTXFlT8?si=43dz7c3Tb1CvUMeU

Читать полностью…

Abdullah Haidir

Sunnah Mahjuroh (sunah yg ditinggalkan); Azan Subuh pertama...

Tayangan ini adalah azan Shubuh yg berkumandang pagi ini (3/3/'24) di Masjid Nabawi, waktu Saudi menunjukkan pukul 4.30. Sementara waktu Shubuh hari ini di Madinah adalah jam 5.30. Berarti azannya sejam sebelum masuk waktu Shubuh. Disebut sebagai azan subuh pertama. Sedang azan Subuh kedua dilakukan saat sudah masuk waktu Subuh. Azannya secara umum tidak beda antara yg pertama dan kedua, hanya saja azan pertama muazi tidak membaca assholaatu khoirumminannauum...

Pada zaman Nabi saw, azan seperti ini disebut azannya Bilal, sebab beliau yang mengumandangkannya. Tujuannya untuk memberitahu orang yg ingin berpuasa agar makan dan minum untuk sahur dan orang yang masih tidur agar bangun untuk persiapan shalat Shuhuh. Sedangkan azan yaang dkumandangkan ketika masuk waktu Shubuh disebut sebagai azannya Ibnu Ummi Maktum, sebab beliau yang mengumandangkanya. Karena beliau buta, maka beliau hanya azan jika ada orang yg memberitahu bahwa waktu Subuh sudah masuk.. (HR. Muslim).

Ini memang sunah yang sudah jarang dipakai di berbagai negeri Islam, diistilahkan sebagai sunnah mahjuroh. Di Jakarta dahulu beberapa masjid melakukannya, entah sekarang... bagus kalau ada yg menghidupkannya kembali sebagai upaya ihya'ussunnah (menghidupkan sunah). Wallahu a'lam

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/lzYR_iXYtl4?si=eU9-ydgzaPxaHNMX

Читать полностью…

Abdullah Haidir

“Sesungguhnya Allah pada setiap malam Nisfhu Sya’ban mengamati, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang musyrik atau orang yang sedang bertengkar (dengan saudaranya).” (HR. Ibnu Majah, no. 1390)

_Abdullah Haidir_

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/w0Ce8f-36HY?si=J9qcJR4AD0VozxT2

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/u1EvB7hOwcw?si=eW8h-nytLdZAb-bs

Читать полностью…

Abdullah Haidir

kerusakan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sungguh tak sebanding dengan keuntungan sesaat yang anda dapatkan. Bahkan seandainya anda selamat dari jeratan hukum, yakinilah Allah tidak pernah lalai dari kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang zalim

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ (سورة إبراهيم: 42)

“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat orang-orang zalim.” (QS. Ibrahim: 42)

Demikian pula halnya kepada para kontestan pemilu, baik calon yang akan dipilih maupun para pengusungnya, harus menghadirkan sikap jujur dan adil. Rakyat akan menilai siapa yang jujur dan adil dalam hal ini dan akan memberikan simpati. Hadirkan niat yang kuat ingin berkhidmat kepada masyarakat bangsa dan negara melalui jalur politik. Maka pahala besar menanti.

Sebaliknya jangan sampai demi meraih suara sebanyak-banyaknya seseorang melakukan berbagai tindakan tercela; Dusta, janji palsu, manipulasi suara, kongkalikong dengan petugas pemilu dan lain-lain. Sadarilah, jabatan yang kita dapatkan dengan cara-cara kotor, dia hanya akan menjadi sumber penyesalan dan celaka bagi hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah saw bersabda terkait jabatan dan kepemimpinan;

وإنَّهَا أَمَانَةُ، وإنَّهَا يَومَ القِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إلَّا مَن أَخَذَهَا بحَقِّهَا، وَأَدَّى الذي عليه فِيهَا.

“Dia adalah Amanah, dan dia di hari kiamat dapat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali yang mendapatkannya dengan cara yang haq dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (HR. Muslim)

Begitu pula bagi Masyarakat umum yang memberikan suara, pun mereka dituntut untuk jujur dan adil. Hendaknya pilihan mereka kepada calon pemimpin dan wakil rakyat lahir dari sikap jujur, obyektif dan rasional dan tentu saja harus dilandasi dengan nilai keimanan. Jangan sekali-kali pilihan ditentukan oleh seberapa besar keuntungan yang dia dapatkan atau karena pemberian yang telah dia terima, bukan pula oleh janji manis dan berbagai iming-iming. Masyarakat jangan hanya menginginkan pemimpin yang adil, jujur, amanah dan bertanggungjawab, namun mereka saat memilih pemimpinnya tidak adil, tidak jujur dan tidak bertanggungjawab. Sering kita saksikan orang-orang yang menyesali pilihannya dalam pemilu-pemilu sebelumnya, karena dahulu saat memilih tidak teliti dan tidak bertanggungjawab.

InsyaAllah, dengan menghadirkan asas jurdil bagi semua pihak, kita berharap pemilu akan berjalan dengan baik, aman dan menghasilakn pemimpin atau wakil rakyat yang berkualitas. Semoga Allah berkahi negeri kita dan jadikan sebagai negeri yang sejahteri dan mendapatkan ridha Allah; Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur.

https://tanyasyariah.com/khutbah/keharusan-jujur-dan-adil-dalam-pemilu/

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/Y6TWdCwYIZ8?si=DfOkiSRZsrDn1LkE

Читать полностью…

Abdullah Haidir

Bolehkah Maghrib dan Isya dijamak karena macet dan ada bayi menunggu di rumah?

Narasumber Ustadz Abdullah Haidir, Lc
(Konsultan Ahli Syaria Consulting Center / SCC)

➖➖➖➖➖➖➖➖
Pertanyaan
Assalamu’alaikum wr. wb.

Jika shalat Maghrib di jamak denga Isya karena posisi macet di jalan atau kereta. Sementara ada bayi yang menunggu di rumah, apa dibolehkan? (Linda-Jakarta)

Jawaban
Waalaikumussalam wr.wb

Bismillah walhamdulillah, amma ba’du.

Hukum asal dari pelaksanaan shalat lima waktu adalah dilakukan pada waktunya masing-masing, sebagaimana firman Allah Taala;

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Namun dalam syariat Islam terdapat keringanan (rukhshah) untuk menggabungkan dua shalat yang dilakukan pada satu waktu, dikenal dengan istilah jamak shalat, jika ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat. Di antara alasan tersebut adalah; Safar berdasarkan pendapat mayoritas ulama, atau hujan dan sakit, berdasarkan pendapat sebagian ulama. Tentu syarat dan ketentuan berlaku.

Di luar itu, sejumlah ulama membolehkan melakukan jamak shalat jika seseorang berada dalam situasi dan kondisi yang sangat sulit dan dilematis untuk melakukan shalat pada waktunya masing-masing. Di antara kasus yang banyak terjadi, khususnya di kota-kota besar adalah saat menghadapi kemacetan sangat berat yang sulit baginya untuk berhenti atau shalat di kendaraan.

Disebutkan dalam kitab Kifayatul Akhyar yang merupakan syarah dari kitab Matan Taqrib dan menjadi salah satu kirab rujukan fikih dalam mazhab Syafii,

بل ذهب جماعة من العلماء إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وبه قال أبو إسحاق المروزي ونقله عن القفال وحكاه الخطابي عن جماعة من أصحاب الحديث واختاره ابن المنذر من أصحابنا وبه قال أشهب من أصحاب مالك، وهو قول ابن سيرين، ويشهد له قول ابن عباس رضي الله عنهما أراد أن لا يحرج أمته حين ذكر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم {جمع با لمدينة بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء من غير خوف ولا مطر} فقال سعيد بن جبير: لم يفعل ذلك؟ فقال:لئلا يحرج أمته فلم يعلله بمرض ولا غيره

“Bahkan sejumlah ulama membolehkan jamak bagi mereka yang tidak dalam safar, jika ada hajat dan tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Pendapat seperti ini dipegang oleh Abu Ishak Almarwazi, dia mengutipnya dari Qaffal. Alkhatthabi meriwayatkan dari sejumlah ulama hadis dan pendapat ini dipilih oleh Ibnul Munzir, ulama dari kalangan mazhab kami. Asyhab dari kalangan ulama Maliki juga berpendapat demikian. Ini adalah pendapat Ibnu Sirin yang diperkuat oleh ucapan Ibnu Abbas saat berkata, ‘Beliau (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) tidak ingin memberatkan umatnya.” Ketika diriwayatkan hadis yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW. menjamak shalat Zuhur dengan Ashar, dan Magrib dengan Isya bukan dalam keadaan takut maupun hujan lebat. Maka saat Said bin Jubair bertanya, ‘Mengapa Rasulullah SAW melakukan hal itu (jama shalat)?’ Ibnu Abbas berkata, ‘Rasulullah SAW tidak ingin memberatkan umatnya.” Beliau tidak memberikan alasan sakit atau alasan lain,” (Kifayatul Akhyar, hal. 140-141, Darul Khair, cet 1, 1412 H – 1991M)

Namun demikian, tentu saja pilihan ini tidak diambil kecuali dalam kondisi mendesak serta tidak menggampangkan permasalahan, dan juga sebagaimana dinyatakan, tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Artinya, jika mudah baginya untuk shalat pada waktunya masing-masing, misalnya dapat singgah di sebuah masjid dengan mudah, hendaknya jamak shalat tidak dijadikan pilihan. Atau hendaknya, belajar dari pengalaman, dia mengambil antisipasi, jika diperkirakan ada kemacetan di tengah perjalanan yang membuatnya sulit untuk shalat pada waktunya, maka keberangkatannya ditunda atau dia shalat terlebih dahulu jika sudah masuk waktu, baru kemudian berangkat. Wallahu a’lam.

================
📕 Update Konsultasi Syariah :
🅿️Facebook : https://bit.ly/TanyaSyariah
🔉Telegram : http://bit.ly/KonsultasiSyariahTelegram
🌐Website : https://tanyasyariah.com/
📲 Whatsapp : https://bit.ly/GrupTanyaSyariah2

▶ Untuk Pertanyaan :

Читать полностью…

Abdullah Haidir

https://youtu.be/c_6FGHgEcm0?si=pYwObPrKiZM7rc3d

Читать полностью…

Abdullah Haidir

*Jaga Kewarasan Jika Muncul Luka' Bin Luka'*

Di antara prediksi zaman yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam katakan akan terjadi dan sebagai tanda-tanda datangnya kiamat adalah sebagaimana sabdanya;

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ أَسْعَدَ النَّاسِ بِالدُّنْيَا لُكَعُ ابْنُ لُكَعٍ (رواه أحمد والترمذي)

"Tidak akan terjadi kiamat sampai yang paling bahagia di dunia adalah Luka' bin Luka'..." (HR. Ahmmad dan Tirmizi)

Siapakah Luka' bin Luka'? Dalam beberapa syarah hadis disebutkan bahwa istilah tersebut di tengah bangsa Arab disematkan kepada orang-orang dungu dan tercela moralnya, namun karena berbagai sebab, mereka mendapatkan kekuasaan dan kemenangan di suatau negeri, maka mereka dikatakan orang yang paling beruntunh dalam urusan dunia. Berikutnya mereka urus masyarakat dengan kebodohan dan syahwatnya.

Ketika situasi seperti itu muncul, maka hal minimal yg harus disikapi adalah menjaga kewarasan berpikir sambil terus melazimkan zikir. Agar pemikiran tetap jernih dan mental tetap terjaga sehingga tetap dapat menilai bahwa kebusukan tetaplah kebusukan walau telah dilapisi kemasan berkilau..

Sebab dengan kekuasaan dan janji manisnya, si Luka' bin Luka' tersebut dapat pengaruhi sebagian orang pintar dan tokoh hebat tunduk di bawah pengaruhnya. Sehingga alih-alih mereka membimbing dan memperingatkan umat dari segala tipu daya Luka' bin Luka', yang ada justeru mereka jadi pendukung utamanya dan pengaruhi masyarakat untuk mengikutinya. Allahul musta'aan

Abdullah_Haidir

Читать полностью…
Subscribe to a channel