1305
Menyajikan pemikiran Emha Ainun Najib (CakNun) Support: @KokohSantri Partner: @NU_Online @KampusTelegram @Audio_alQuran @KitabKuning1 @BukuSekolahElektronik @TekBuk @CakNunChannel @Sticker_ID
Menggali Sejarah Halal Bihalal; Dari strategi diplomasi menjadi tradisi
https://youtu.be/A4kWgnIu9rM
#sharebot
🤖 Hamster Kombat
🌐 /channel/hamster_koMbat_bot
Siapa sih yang enggak kepengin menjadi CEO Perusahaan bertaraf internasional?
Pelajari strateginya di Hamster Kombat
Disini Anda adalah pemegang perusahaan, dimana Anda dapat membuat strategi untuk mengembangkan perusahaan menjadi Global Player
Gunakan ilmu "Lapar", "imajinasi", dan "naluri" bisnis Anda untuk mengembangkannya
@KampusTelegram
UPDATE DESIGN
KAOS #HARISANTRI 2021
READY S-M-L-XL-XXL-XXXL
HARGA:
LENGAN PENDEK = 75.000
LENGAN PANJANG = 80.000
SPESIFIKASI:
KAIN COTTON COMBED 30s
SABLON SEMI PLASTISOL
READY UKURAN S-M-L-XL-XXL-XXXL
ORDER WA:
wa.me/6285235536675
SERAGAMAN/PARTAI BESAR/STOCK PC/MWCNU
Japri saja
ORANG TUA WAJIB HAFAL - BACAKAN DOA INI SUPAYA ANAK ANDA TERHINDAR DARI ZINA — NU Banget
https://youtu.be/WNYoqm8VvI8
BACAKAN DOA INI SEBELUM HEWAN QURBAN ANDA DISEMBELIH — NU Banget
https://youtu.be/3CIhvjw_J38 3:57
Meneguhkan Lima Prinsip Jalan Kenabian • CakNun.com
via www.caknun.com
Padhangmbulan, Gembira dalam Kesunyian • CakNun.com
via www.caknun.com
Istiqamah Ber-Maiyah • CakNun.com
via www.caknun.com
Upaya Keluar Dari Belenggu • CakNun.com
via www.caknun.com
BOCORAN MALAM LAILATUL QADAR DARI ULAMA BESAR
https://youtu.be/tp-r-y5DX4g
#sharebot
🤖 Notcoin
🌐 /channel/notcoin_bot
ℹ️
Notcoin adalah token meme yang diciptakan dibawah jaringan TON Foundation (Jaringan Blockchain yang diciptakan oleh Pavel Durov -Pencipta Telegram- yang kemudian menyerahkan pengelolaannya ke publik).
Menariknya, token ini bisa ditambang/mining hanya dengan klak-klik layar smartphone saja.
Sampai saat ini, pengguna Telegram yang sudah ikut menambang Notcoin sudah lebih dari 1 juta orang.
Koin yang ditambang saat ini sudah lebih dari 10 miliar.
Link Download Logo Hari Santri 2021 berbagai Versi
Читать полностью…
Assalamu'alaikum wr.wb
dengan syafaat Nabi Muhammad, S.A.W
dengan karomah para aulia
dengan barokah habaib dan ulama
dengan berkah bulan Dzulhijjah
dan dengan barokah kehalehan bapak-ibu pembaca;
dengan kerendahan hati, saya mengemis ziadah doa dan hadiah Surat al-Fatihah --seikhlasnya/7x-- untuk istri sholihah Admin
semoga dikuatkan batin dan dzohirnya
dilimpahkan rezeki, dan
terus dan terus menjadi istri sholihah
Laisa lahaa min duunillaahi kasyifa
Al-Fatihah...
semoga bacaan Fatihah pembaca menjadi amal jariyah dan sampai kapada istri sholihah admin
Amin
Kamulah fatihahku
Kamulah sholihahku
Kamulah perhiasanku
Kamulah istriku
Wassalamualaikum wr.wb
Terimakasih telah Melakukan Donasi untuk Admin
semoga rezekinya tambah berkah. Amin
Cara mudah Donasi Tanpa Mengeluarkan Uang:
1. Klik link /channel/BitcoinClick_bot
2. Klik tombol START
3. Klik menu Visit Sites
4. Klik Go to Website
5. Klik Open (maka aplikasi telegram membuka browser), tunggu 20 detik hitungan mundur -jika ada hitungannya-
✅donasi selesai✅
Ulangi langkah 2-5 sebanyak 3x/hari, atau sebanyak mungkin
Selain berdonasi, Anda juga mendapatkan bitcoin gratis
Jika sudah terkumpul 5000 satoshi (0.00005000 btc), silakan hubungi Kang Admin untuk ditukar dengan uang tunai, pulsa, saldo Dana, Ovo, GoPay, LinkAja, atau lainnya.
Mata Air Padhangmbulan • CakNun.com
via www.caknun.com
Universitas Ibu-Bapak • CakNun.com
via www.caknun.com
Cara GusDur Mempromosikan Kiai
Tahun 1980an, beberapa kiai sempat menjuluki Gus Dur sebagai “kiai ketoprak”. Julukan itu dilontarkan lantaran gaya Gus Dur slenge’ankayak seniman, akrab juga dengan seniman, menjadi dewan juri Festifal Film Indonesia, fasih bercerita wayang, paham seluk beluk ludruk, kesenian asli Jawa Timur tersebut.
“Kiai kok begitu,” kira-kira itulah keluhan beberapa kiai. Ya, terasa sinikal julukan tersebut. Tapi pelan-pelan julukan itu luntur, hilang sama sekali. Mengapa?
Gus Dur membuktikan bahwa dirinya cinta mati pada kiai. Pembuktiaan Gus Dur tidak main-main. Dia gencar menulis profil-profil kiai secara populer di pelbagai media. Setelah Kiai Saifuddin Zuhri mulai jarang menulis kiai-kiai (karena makin sepuh dan sepertinya sudah khatam menulis kiai setelah terbitnya buku “Berangkat dari Pesantren” tahun 1984), Gus Durlah yang meneruskan tradisi gurunya (Kiai Saifuddin Zuhri) menulis kiai dengan serius: detil, mengena, sastrawi, dan pada saat yang bersamaan, tidak kehilangan kejenakaannya.
Salah satu karya Gus Dur buku tipis “Kiai Nyentrik Membela Pemerintah” (LKiS: 2001). Sebab, di dalam berbagai kolomnya, Gus Dur menempatkan kiai bukan sebagai maf’ul bih (obyek), melainkan sebagai fa’il (subyek), pelaku yang berperan aktif dengan segala perannya, dengan semua cara pandang, pola pikirnya dan tindakannya.
Dalam buku “Kiai Nyentrik Membela Pemerintah”, Gus Dur mengisahkan Kiai Iskandar, sosok unik yang di masa remaja bersekolah di lembaga Muhammadiyah kemudian melanjutkan pendidikannya di Ponpes Lirboyo, Kediri, dan sepulang dari mondok dia harus mengemong dua kubu di desanya: santri dan abangan yang bertahun tahun berseteru.
Ketika ada jenazah muslim KTP, alias nggak pernah beribadah tapi mengaku Islam, Kiai Iskandar memilih tetap mensalatinya dengan berbagai pertimbangan.
Tindakan Kiai Iskandar ini menjadi perbincangan kalangan “santri” maupun saudara-saudara “abangan”. Tapi, sejak saat itu abangan ini mulai luluh. Mereka semakin menghormati Kiai Iskandar dan perlahan lahan banyak juga yang terpengaruh gaya dakwah beliau yang ngemong itu, memanusiakan manusia itu.
Selain Kiai Iskandar, banyak ulama-ulama lain yang dikisahkan dalam buku ini. Kiai Adlan Ali, Gus Miek, Kiai Wahab Sulang Rembang, Kiai Sahal Mahfudz, Kiai Abdullah Salam, dan kiai-kiai lainnya dengan segala alam pikiran dan tindakannya sebagai khadimul ummah (pelayan umat). Mereka punya gayanya masing-masing sebagai seorang kiai. Inilah yang dipotret oleh Gus Dur kemudian dikupas dalam berbagai esainya.
cara unik Gus Dur mempromosikan kiai di era 1980-an hingga satu dasawarsa berikutnya. Ketika banyak pihak menilai kiai sebagai sosok kolot-konservatif, Gus Dur menampilkan pribadi KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, yang tidak pernah kuliah secara formal, namun memiliki pemikiran fiqh brilian, melalui esai yang judulnya amat puitis: “Kiai Pencari Mutiara”.
Ketika banyak sindiran, menilai kiai hanya duduk di “menara gading”, ogah menyapa para pendosa, Gus Dur mempromosikan Gus Miek dengan segala kiprahnya menghampiri dan membimbing para pelaku di dunia hitam.
Tatkala ada yang berprasangka apabila kiai hanya berkutat pada hitam-putih hukum fikih, Gus Dur memperkenalkan gurunya, KH. Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, melalui esai berjudul “Baik Belum Tentu Bermanfaat”, di mana dalam tulisan ini Gus Dur mengambil penerapan metodologi ushul fiqh aplikatif ala Kiai Ali. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Bagi saya penulisan berbagai esai di atas melalui corong media “sekuler” bernama TEMPO dan Kompas di dasawarsa 1980-an hingga satu era berikutnya, adalah langkah cerdik. Di dua media massa yang mengusung “sekularisme” secara ketat itu, Gus Dur malah “pasang iklan” tentang dunia kepesantrenan dengan segela kebudayaannya. Sebuah tawaran alternatif nan cerdik di tengah asumsi negatif mengenai sosok kiai pesantren (kolot, saklek, anti pendidikan formal, berpikir usang, anti perubahan dan seterusnya).
Dengan cara yang elegan, Gus Dur mengerek profil ulama pesantren di panggung kehormatan agar lebih dikenal publik.
Wallahu A'lam Bisshawab
Alfatihah...